ANALISA KEPENDUDUKAN
Selasa, 19 Februari 2013 ★ 22.19 │
Indonesia adalah Negara yang kaya
akan pulau dan SDM. Indonesia memiliki 17.508 pulau, dengan jumlah penduduk
yang besar dan padat di dunia setelah Negara china, India dan Amerika yaitu
sekitar 237 juta orang. Dengan berkembang pesatnya pertumbuhan penduduk
Indonesia kerap kali mengalami masalah social salah satu contohnya adalah
terjadinya kemiskinan dan banyaknya pengangguran. pada bulan oktober 2011
jumlah penduduk di dunia diperkirakan mencapai 7 miliar jiwa. Indonesia
memiliki tingkat pertumbuhan penduduk yang mencapai 1.49 persen
pertahunnya, dengan laju pertumbuhan penduduk Indonesia yang mencapai
1.49% tersebut maka seharusnya supply pangan harus 5% artinya harus lebih besar
dari jumlah penduduk hal ini guna menghindari terjadinya kemiskinan. Tetapi
pada kenyataannya di Indonesia persentase antara penduduk dan kebutuhan pangan
sangatlah jauh, sehingga angka kemiskinan pun semakin bertambah tinggi. Di
Indonesia kemiskinan bukan hanya terjadi akibat dari kurangnya supply pangan
tetapi terjadi juga karena kemiskinan mental yaitu sumber daya manusia di
Indonesia yang sangat buruk banyak di antara mereka yang tidak ingin berusaha
dan bekerja. Akibat kemiskinan tersebut timbullah pantologi yaitu penyakit
social seperti pengemis, gelandangan dan lain-lain.
Hal ini bukan saja menjadi masalah besar bagi
indonesia tetapi juga bagi dunia. Bertambahnya populasi penduduk maka beban
tugas pemerintah pun semakin besar, jika hal ini tidak cepat
dikendalikan, maka tidak menutup kemungkinan akan semakin bertambahnya
masalah-masalah social yang lain selain sandang pangan yaitu seperti masalah
kesehatan dan pengelolaan lingkungan hidup juga akan sangat besar.
Bagaimana teori Robert Malthus menjawab permasalahan
kependudukan di Indonesia ini?
Sesuai dengan dalil Malthus, Indonesia sebagai
Negara dunia keempat memang sangat potensial terhadap teori tersebut. Dalam
teorinya Malthus mengemukakan bahwa “penduduk berkembang menurut deret ukur
(1,2,4,8…) sedangkan bahan pangan berkembang menurut deret hitung (1,2,3,4…)”
teori ini sangat sesuai dengan permasalahan kepadatan populasi di Indonesia
seperti yang kita ketahui bahwa pertumbuhan penduduk semakin melonjak tinggi
sedangkan kebutuhan pangan sangatlah minim. Seharusnya dengan laju pertumbuhan
penduduk Indonesia yang semakin meningkat kebutuhan pangan harus lebih besar
dari pada laju tersebut agar tidak terjadinya kemiskinan. Apabila hal ini terus
meningkat maka Indonesia akan semakin terpuruk oleh krisis kebutuhan pangan,
halini pula di akibatkan dengan semakin majunya teknologi di dunia sehingga
orang enggan untuk bercocok tanam dan menekuni bidang pertanian. Lahan-lahan
kosong yang seharusnya dapat ditempati untuk ladang pertanian sekarang berubah
menjadi lahan pemukiman. Sehingga mengalami ketimpangan antara jumlah penduduk
dengan kebutuhannya. Akibat dari laju pertumbuhan penduduk semakin meningkat
selain mengakibatkan kemiskinan juga mengakibatkan beberapa factor masalah
social lain yaitu semakin bertambahnya pengemis dan hal ini juga didukung dengan
kinerja pemerintah yang tak maksimal sehingga lapangan kerja dangat minim dan
makin banyaknya pengangguran.
Dengan itu teori ini dapat menghendaki bahwa apabila
jumlah penduduk semakin melonjak tinggi maka kebutuhan harus lebih besar
daripada itu. Jika laju pertumbuhan penduduk tidak mampu dikendalikan, maka
beban Negara selain mengenai masalah pangan, masalah lain seperti pengangguran,
pengemis, pendidikan, kesehatan dan pengelolaan lingkungan hidup juga akan amat
besar.
Lalu bagaimana agar pertumbuhan
penduduk tidak semakin meningkat?
Solusinya adalah, pemerintah harus tegas menggalakan
program KB bagi masyarakat, mensosialisasikan kondom dan alat kontrasepsi
lainnya. Melakukan penyuluhan serta memasang spiral gratis bagi penduduk
miskin.
OLDER POST | NEWER POST