MANAJEMEN KEPEMIMPINAN
Sabtu, 24 November 2012 ★ 01.32 │
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Manajemen berasal dari bahasa Prancis kuna ménagement, yang memiliki
arti seni melaksanakan dan mengatur. Karenanya, manajemen dapat
diartikan sebagai ilmu dan seni tentang upaya untuk memanfaatkan semua
sumber daya yang dimiliki untuk mencapai tujuan secara efektif dan
efesien. Manajer/Pemimpin adalah seorang yang karena pengalaman,
pengetahuan, dan keterampilannya diakui oleh organisasi untuk memimpin,
mengatur, mengelola, mengendalikan dan mengembangkan kegiatan organisasi
dalam rangka mencapai tujuan.
Para manajer akan memikirkan cara-cara, alat-alat, metoda yang paling
efektif untuk membuka hutan itu. Mungkin mereka akan memakai gergaji
listrik, mungkin memakai gergaji panjang karena medannya sulit, atau
bahkan mereka akan melingkar untuk mencari celah agar mudah membuka
bagian hutan itu.Bisakah sekarang anda membedakan fungsi manajemen dan
kepemimpinan? Kepemimpinan adalah yang menentukan arah, sedangkan
manajemen berusaha untuk mewujudkan agar arah tadi bisa tercapai
Manajemen dan kepemimpinan, sebenarnya apa perbedaan mendasar kedua
istilah itu? Dua kata itu, manajemen dan kepemimpinan sangat sering kita
dengar. Kadang kata itu sering kita persamakan artinya. Ketika kita
melihat perusahaan yang sangat berkembang kita sering mengatakan,
“manajemen di sana baik.” Kadang kita berkata, namun kata manajemen
begitu melanda dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika anda ingin mengkritik sebuah universitas yang prestasinya buruk,
anda mengatakan "manajemen universitas itu tidak cakap." Ketika anda
bicara pengelolaan pajak yang amburadul, anda mengatakan, "manajemen
pajak di negeri kita payah." Saat ini kita memang hidup penuh dengan
berondongan istilah yang macam-macam, yang semuanya terkait dengan
manajemen.. Benchmarking, balance score card, intrapreneuring,
empowerment, business process reengineering, dan istilah-istilah
aneh-aneh (tapi pasti Inggris) begitu melanda organisasi kita.Celakanya,
kita sering begitu “gagah” menggunakan kata-kata asing itu. Daripada
bilang pemberdayaan, kita lebih mantap bicara empowerment. Daripada
bicara hubungan pelanggan yang akrab, kita katakan customer intimacy,
atau malah sekadar customer relationship.
Namun ada fenomena menarik, walau kita sering mengucapkan berbagai
istilah manajemen, kita malah sering tidak tahu arti persis dari
kata-kata itu. Seringkali pula istilah manajemen itu kita dengar dari
orang lain, karena terasa gagah, kata itu kemudian menjadi “kosa kata”
kita sehari-hari tanpa kita pernah tahu dari literatur mana sumber
istilah manajemen itu.Ketika kita makin berakrab-akrab dengan berbagai
istilah itu, agar “membumi” kita ganti istilah itu menjadi bahasa
Indonesia.
B. TUJUAN
Membahas tentang
• Seorang pemimpin yang sesuai dengan karaktenya
• Pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika keberadaannya mendorong perubahan dalam organisasinya
• Memahami tentang Manajemen
• Mengetahui bagian-bagian Manajemen dan kepemimpinan
•
C. MASALAH
Makalah ini membahas tentang
• Bagaimanakah kepemimpinan itu
• Apa saja Ruang lingkup kepemimpina
• Bagai manaka sebenarnya Mengidentifikasi manajemen.
• Apakah makna dari manajemen.
• Bagaimana mengenal bahwa perkembangan manajemen sangat berguna
D. BATASAN MASALAH
Makalah ini hanya membahas tentang manajemen dan kepemimpinan
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Manajemen
Pengguna bahasa Inggris biasa menggunakan istilah "management" atau "the
managment" sebagai kata kolektif mendeskripsikan organisasi, sebagai
contoh ialah korporasi. Bidang pelajaran manajemen berkembang dari
kondisi ekonomi di abad ke-19. Pelaku Ekonomi klasik seperti Adam Smith
dan John Stuart Mill memberikan teori alokasi sumber daya, produksi dan
penetapan harga. Pada saat yang hampir bersamaan, penemu seperti Eli
Whitney, James Watt, dan Matthew Boulton mengembangkan teknik produksi
seperti standarisasi, prosedur kontrol kualitas, akuntansi biaya,
penukaran bahan, dan perencanaan kerja.
Pada pertengahan abad 19, Robert Owen, Henry Poor, dan M. Laughlin dan
lain-lain memperkenalkan elemen manusia dengan teori pelatihan,
motivasi, struktur organisasi dan kontrol pengembangan pekerja.
Pada akhir abad 19, Pelaku ekonomi marginal Alfred Marshall dan Leon
Walras dan lainnya memperkenalkan lapisan baru yang kompleks ke teori
manajemen. Pada 1900an manajer mencoba mengganti teori mereka secara
keseleruhan berdasarkan sains. Seperti Henry Fayol dan Alexander Church
menjelaskan beberapa cabang dalam manajemen dan hubungan satu sama lain.
Peter Drucker menulis salah satu buku paling awal tentang manajemen
terapan: "Konsep Korporasi" (Concept of the Corporation), diterbitkan
tahun 1946. Buku ini muncul atas ide Alfred Sloan (chairman dari General
Motors) yang menugaskan penelitian tentang organisasi.
H. Dodge, Ronald Fisher, dan Thorton C Fry memperkenalkan teknik
statistika ke dalam manajemen. Pada tahun 1940an, Patrick Blackett
mengkombinasikan teori statistika dengan teori mikroekonomi dan lahirlah
ilmu riset operasi. Riset operasi, sering dikenal dengan "Sains
Manajemen", mencoba pendekatan sains untuk menyelesaikan masalah dalam
manajemen, khususnya di bidang logistik dan operasi.
William Stewart, (Carter-Scott, 1994) seorang alumnus the Naval Academy
yang merupakan veteran perang Vietnam ikut berpendapat tentang manajemen
dengan mengatakan, “Ada perbedaan keahlian yang dituntut di dunia
militer. Ketika keadaan damai, misalnya, anda akan sukses jika anda tahu
bagaimana menerapkan manajemen. Namun ketika perang, anda hanya akan
sukses jika anda mampu memimpin.
Keahlian manajemen anda yang efektif, tidak terlalu bisa anda terapkan
dalam perang. Yang diperlukan adalah kemampuan memimpin.” Sekarang ini
Steward sudah menjadi pengacara yang sukses di Amerika Serikat. Ketika
anda belajar manajemen, anda selalu teringat oleh Henry Fayol. Ia, di
tahun 1916 memperkenalkan konsep manajemen yang berupa merencanakan,
mengorganisasikan, memerintahkan, dan mengawasi. Ketika ada orang
bertanya kepadanya, apa tugas dari seorang dirut? POSDCORB jawabnya. Itu
adalah kepanjangan dari planning, organizing, staffing, directing,
coordinating, reporting dan budgeting. Ia mengemukakan istilah itu di
tahun 1930. Akronim manajemen itu ringkas dan mudah diingat.
B. Kepemimpinan
Dalam perkembangan pemikiran saat ini, kepemimpinan dipahami dengan cara
yang sangat berbeda. Ada beberapa perspektif yang berkaitan dengan
pemahaman tentang kepemimpinan.
1. Berkaitan dengan orang-orang.
Sebenarnya kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan mengatur kegiatan
menjadi tepat waktu, hasil dari sebuah kegiatan maksimal, tapi gersang
akan ketelibatan dan kepedulian masyarakat setempat. Yang mendasar dari
sebuah kepemimpinan adalah seni untuk merapatkan barisan dan menjadikan
setiap komponen produktif dengan menumbuhkan motivasi setiap individu
yang bergabung dan terlibat dalam kegiatan. Memiliki semangat untuk
menjalankan aktivitas, menemukan kebahagian di dalamnya sekaligus
menyumbang untuk keseluruhan, membantu orang-orang untuk bertanggung
jawab dengan pekerjaanya, serta menemukan makna dari sebuah kegiatan.
2. Berkaitan dengan motivasi internal.
Kepemimpinan tidak ditentukan oleh perintah atau kontrol dari luar diri
kita, melainkan ditentukan oleh motivasi dari dalam diri yang
sungguh-sunguh memberikan dorongan dan kekuatan yang besar. Ketika
motivasi yang lebih internal dan mendalam itu memimpin setiap diri
anggota BKM saat menjalankan amanah, dengan sendirinya kepuasan dan
produktivitas akan tumbuh sebagaimana daun dan bunga, yang selanjutnya
menjadi buah pada tanaman dan bertumbuh mengikuti daya hidup yang
menjalar dari kedalaman akar.
3. Berkaitan dengan meraih kesempurnaan dan menerima kekurangan.
Di antara kita tidak satupun yang sempurna. Kita semua memiliki
keinginan untuk meraih keberhasilan, mencapai mewujudkan visi kita,
namun lebih sering kita mengalami kegagalan. Itulah yang secara riil
dialami banyak orang. Oleh karena itu, BKM sebagai lembaga yang punya
kepemimpinan kolektif harus berani membuka semua kegagalan dan
permasalahan dalam merealisasikan kegiatan dalam rapat-rapat reguler
BKM. Hanya dengan keberanian menerima kegagalan untuk bangkit dan
memulai lagi ketika keberhasilan belum tercapai, sebuah keberhasilan
program dalam merealisasikan visi akan diraih.
4. Berkaitan dengan kepercayaan diri.
Agar secara sadar dapat memilih untuk berubah, dibutuhkan keyakinan
bahwa segala sesuatu dapat berubah ke arah yang lebih baik. Kita memang
berada dalam waktu yang tidak menjamin kepastian. Banyak orang yang
merasa takut untuk memegang amanah, mengekspresikan diri dan
mengemukakan pandangan-pandangan diri. Untuk dapat yakin pada diri
sendiri membutuhkan kerja keras untuk membangun keyakinan diri. Tanpa
keyakinan diri, kita tidak akan mampu mengambil pilihan, melakukan hal
yang berbeda dengan orang lain, malah lebih memilih menunggu perintah.
Hanya BKM yang percaya diri dapat menumbuhkan kepercayaan masyarakat.
5. Berkaitan dengan menciptakan harapan.
Yang disebut pemimpin adalah mereka yang dapat mengawal perubahan dari
diri orang lain, bahkan pada saat-saat tersulit. Pemimpin seperti ini
akan mampu menemukan cara untuk menumbuhkan harapan, memberikan
inspirasi, menunjukkan perhatian dan kepedulian, serta membantu
menemukan kembali dasar rasa kepercayaan diri dari masyarakat yang mulai
hilang.
Selain kelima hal di atas, tak kalah penting adalah visi sebagai dasar
kepemimpinan kolektif BKM. Karena, tanpa visi yang disepakati dan
menginternalisasi dalam setiap individu yang bergabung dalam BKM,
mustahil keberhasilan program akan tercapai, sebab mereka belum sepakat
tentang masa depan yang diinginkan. Apalagi jika tema sentral visi BKM
jelas tentang penanggulangan kemiskinan.
Bertitik tolak dari pemikiran membangun kebiasaan yang produktif secara
terus menerus untuk meningkatkan penguasaan ilmu, keterampilan dan niat
sebagai alat untuk membangun wawasan dan imajinasi sehingga ia mampu
menggerakkan kekuatan berpikir untuk mewujudkan “kekuatan kepemimpinan”
dalam bentuk menggelorakan jiwa besar kepemimpinan kedalam : Apa yang
anda pikirkan ; Apa arti keberadaan anda : Apa arti kekuatan satu
pemikiran dalam kebersamaan visi anda ; Apa arti menempa watak
keteladanan anda ; Apa arti mental yang sehat dalam kepribadian anda.
Jadi dengan penguasaan prinsip-prinsip kepemimpinan yang kita sebutkan
diatas, diharapkan dapat menjadi dorongan kesiapan diri kedalam
kebesaran jiwa kepemmpinan, anda akan menjawab bagaimana sebaiknya anda
berperan dalam mewujudkan kekuatan pikiran anda mempengaruhi orang-orang
yang ada disekelilingmu dengan membuat satu pertanyaan yang tidak mudah
dijawab yaitu : Apakah saya berperan untuk mengembangkan calon Pemimpin
? ; Mengapa anda harus melahirkan pemimpin ? ; Dimana keberadaan
potensi itu ada menurut pemimpin ? ; Kapan calon mengetahui bahwa ia
dipersiapkan oleh pemimpin ? ; Bagaimana melaksanakan peran tersebut
oleh pemimpin ?
BAB III
ANALISA
MANAJEMEN DAN KEPEMIMPINAN
A. PROSES MANAJEMEN
Proses manajemen {utama|Proses manajemen}} Fungsi manajemen adalah
elemen-elemen dasar yang akan selalu ada dan melekat di dalam proses
manajemen yang akan dijadikan acuan oleh manajer dalam melaksanakan
kegiatan untuk mencapai tujuan.
Planning Kegiatan seorang manajer adalah menyusun rencana. Menyusun
rencana berarti memikirkan apa yang akan dikerjakan dengan sumber yang
dimiliki. Agar dapat membuat rencana secara teratur dan logis,
sebelumnya harus ada keputusan terlebih dahulu sebagai petunjuk
langkah-langkah selanjutnya.
Organizing Berarti menciptakan suatu struktur organisasi dengan
bagian-bagian yang terintegrasi sedemikian rupa sehingga hubungan
antarbagian-bagian satu sama lain dipengaruhi oleh hubungan mereka
dengan keseluruhan struktur tersebut.
Pengorganisasian Bertujuan membagi suatu kegiatan besar menjadi
kegiatan-kegiatan yang lebih kecil. Selain itu, mempermudah manajer
dalam melakukan pengawasan dan menentukan orang yang dibutuhkan untuk
melaksanakan tugas-tugas yang telah dibagi-bagi tersebut.
Actuating Adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota
kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan
manajerial dan usaha-usaha organisasi. Jadi actuating artinya adalah
menggerakkan orang-orang agar mau bekerja dengan sendirinya atau penuh
kesadaran secara bersama-sama untuk mencapai tujuan yang dikehendaki
secara efektif. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah kepemimpinan
(leadership).
Controlling Adalah proses pengawasan performa perusahaan untuk
memastikan bahwa jalannya perusahaan sesuai dengan rencana yang telah
ditetapkan. Seorang manajer dituntut untuk menemukan masalah yang ada
dalam operasional perusahaan, kemudian memecahkannya sebelum masalah itu
menjadi semakin besar. an mengevaluasinya
B.. SARANA MANAJEMEN
Untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan diperlukan alat-alat sarana
(tools). Tools merupakan syarat suatu usaha untuk mencapai hasil yang
ditetapkan. Tools tersebut dikenal dengan 6M, yaitu men, money,
materials, machines, method, dan markets.
a. Man (SDM)
Dalam manajemen, faktor adalah yang paling menentukan. Manusia yang
membuat tujuan dan manusia pula yang melakukan proses untuk mencapai
tujuan. Tanpa ada manusia tidak ada proses kerja, sebab pada dasarnya
manusia adalah makhluk kerja. Oleh karena itu, manajemen timbul karena
adanya orang-orang yang berkerja sama untuk mencapai tujuan.
b. Money (uang)
merupakan salah satu unsur yang tidak dapat diabaikan. Uang merupakan
alat tukar dan alat pengukur nilai. Besar-kecilnya hasil kegiatan dapat
diukur dari jumlah uang yang beredar dalam. Oleh karena itu uang
merupakan alat (tools) yang penting untuk mencapai tujuan karena segala
sesuatu harus diperhitungkan secara rasional. Hal ini akan berhubungan
dengan berapa uang yang harus disediakan untuk membiayai gaji tenaga
kerja, alat-alat yang dibutuhkan dan harus dibeli serta berapa hasil
yang akan dicapai dari suatu organisasi.
c. Materials (bahan)
Materi terdiri dari bahan setengah jadi (raw material) dan bahan jadi.
Dalam dunia usaha untuk mencapai hasil yang lebih baik, selain manusia
yang ahli dalam bidangnya juga harus dapat menggunakan
bahan/materi-materi sebagai salah satu sarana. Sebab materi dan manusia
tidaki dapat dipisahkan, tanpa materi tidak akan tercapai hasil yang
dikehendaki.
d. Machines (mesin)
Dalam kegiatan perusahaan, mesin sangat diperlukan. Penggunaan akan
membawa kemudahan atau menghasilkan keuntungan yang lebih besar serta
menciptakan efesiensi kerja.
e. Methods (metode)
Dalam pelaksanaan diperlukan metode-metode kerja. Suatu tata cara kerja
yang baik akan memperlancar jalannya pekerjaan. Sebuah metode daat
dinyatakan sebagai penetapan cara pelaksanaan kerja suatu tugas dengan
memberikan berbagai pertimbangan-pertimbangan kepada sasaran,
fasilitas-fasilitas yang tersedia dan penggunaan waktu, serta uang dan
kegiatan usaha. Perlu diingat meskipun metode baik, sedangkan orang yang
melaksanakannya tidak mengerti atau tidak mempunyai pengalaman maka
hasilnya tidak akan memuaskan. Dengan demikian, peranan utama dalam
manajemen tetap manusianya sendiri.
f. Market (pasar)
Memasarkan produk sudah barang tentu sangat penting sebab bila barang
yang diproduksi tidak laku, maka proses produksi barang akan berhenti.
Artinya, proses kerja tidak akan berlangsung. Oleh sebab itu, penguasaan
dalam arti menyebarkan merupakan faktor menentukan dalam perusahaan.
Agar pasar dapat dikuasai maka kualitas dan harga barang harus sesuai
dengan selera konsumen dan daya beli (kemampuan) konsumen.
K. Etika manajerial
Etika manajerial adalah standar prilaku yang memandu manajer dalam
pekerjaan mereka. Ricky W. Griffin dalam bukunya yang berjudul Business
mengklasifikasikan etika manajerial ke dalam tiga kategori:
1. Perilaku terhadap karyawan
Kategori ini meliputi aspek perekrutan, pemecatan, kondisi upah dan
kerja, serta privasi dan respek. Pedoman etis dan hukum mengemukakan
bahwa keputusan perekrutan dan pemecatan harus didasarkan hanya pada
kemampuan untuk melakukan pekerjaan. Perilaku yang secara umum dianggap
tidak etis dalam kategori ini misalnya mengurangi upah pekerja karena
tahu pekerja itu tidak bisa mengeluh lantaran takut kehilangan
pekerjaannya.
2. Perilaku terhadap organisasi
Permasalahan etika juga terjadi dalam hubungan pekerja dengan
organisasinya. masalah yang terjadi terutama menyangkut tentang
kejujuran, konflik kepentingan, dan kerahasiaan. Masalah kejujuran yang
sering terjadi di antaranya menggelembungkan anggaran atau mencuri
barang milik perusahaan. Konflik kepentingan terjadi ketika seorang
individu melakukan tindakan untuk menguntungkan diri sendiri, namun
merugikan atasannya. Misalnya, menerima suap Sementara itu, masalah
pelanggaran etika yang berhubungan dengan kerahasiaan di antaranya
menjual atau membocorkan rahasia perusahaan kepada pihak lain.
3. Perilaku terhadap agen ekonomi lainnya
Seorang manajer juga harus menjalankan etika ketika berhubungan dengan
agen-agen ekonomi lain seperti pelanggan, pesaing, pemegang saham,
pemasok, distributor, dan serikat buruh.
C. PRINSIP DASAR MANAJEMEN
Berdasarkan studi literatur yang saya lakukan terhadap sejumlah buku,
artikel, makalah, dan sumber-sumber literatur lainnya, maka manajemen
kinerja yang baik untuk menuju organisasi berkinerja tinggi, harus
mengikuti kaidah-kaidah berikut ini.
Terdapat suatu indikator kinerja (key performance indicator) yang
terukur secara kuantitatif, serta jelas batas waktu untuk mencapainya.
Tentu saja ukuran ini harus menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi
oleh organisasi tersebut. Jika pada organisasi bisnis atau komersial,
maka indikator kinerjanya adalah berbagai aspek finansial seperti laba,
pertumbuhan penjualan, lalu indikator pemasaran seperti jumlah
pelanggan, dan sebagainya. Sedangkan pada organisasi pemerintahan
seperti POLRI, maka ukuran kinerja tentu berbagai bentuk pelayanan
kepada masyarakat. Semuanya harus terukur secara kuantitatif dan
dimengerti oleh berbagai pihak yang terkait, sehingga nanti pada saat
evaluasi kita bisa mengetahui, apakah kinerja sudah mencapai target atau
belum. Michael Porter, seorang profesor dari Harvard Business School
mengungkapkan bahwa kita tidak bisa memanajemeni sesuatu yang tidak
dapat kita ukur. Jadi, ukuran kuantitatif itu penting. Organisasi yang
tidak memiliki indikator kinerja, biasanya tidak bisa diharapkan mampu
mencapai kinerja yang memuaskan para pihak yang berkepentingan
(stakeholders).
Semua ukuran kinerja tersebut biasanya dituangkan ke dalam suatu bentuk
kesepakatan antara atasan dan bawahan yang sering disebut sebagai
kontrak kinerja (performance contract). Dengan adanya kontrak kinerja,
maka atasan bisa menilai apakah si bawahan sudah mencapai kinerja yang
diinginkan atau belum. Kontrak kinerja ini berisikan suatu kesepakatan
antara atasan dan bawahan mengenai indikator kinerja yang ingin dicapai,
baik sasaran pancapaiannya maupun jangka waktu pencapaiannya. Ada 2
(dua) hal yang perlu dicantumkan dalam kontrak kinerja, yaitu sasaran
akhir yang ingin dicapai (lag) serta program kerja untuk mencapainya
(lead).
Mengapa keduanya dicantumkan ? Supaya pada saat evaluasi nanti berbagai
pihak bisa bersikap fair, tidak melihat hasil akhir semata, melainkan
juga proses kerjanya. Adakalanya seorang bawahan belum mencapai semua
hasil akhir yang ditargetkan, tetapi dia sudah melaksanakan semua
program kerja yang sudah digariskan. Tentu saja atasan tetap harus
memberikan reward untuk dedikasinya, walaupun sasaran akhir belum
tercapai. Ini juga bisa menjadi basis untuk perbaikan di masa yang akan
datang (continuous improvements).
Terdapat suatu proses siklus manajemen kinerja yang baku dan dipatuhi untuk dikerjakan bersama, yaitu
• Perencanaan kinerja berupa penetapan indikator kinerja, lengkap dengan
berbagai strategi dan program kerja yang diperlukan untuk mencapai
kinerja yang diinginkan, lalu
• Pelaksanaan, di mana organisasi bergerak sesuai dengan rencana yang
telah dibuat, jika ada perubahan akibat adanya perkembangan baru, maka
lakukanlah perubahan tersebut, dan terakhir
• Evaluasi kinerja, yaitu menganalisis apakah realisasi kinerja sesuai
dengan rencana yang sudah ditetapkan dulu ? Semuanya harus serba
kuantitatif.
Adanya suatu sistem reward dan punishment yang bersifat konstruktif dan
konsisten dijalankan. Konsep reward ini tidak melulu bersifat finansial,
melainkan juga dalam bentuk lain, seperti promosi, kesempatan
pendidikan, dan sebagainya. Reward dan punishment diberikan setelah
melihat hasil realisasi kinerja, apakah sesuai dengan indikator kinerja
yang telah direncanakan atau belum. Tentu saja ada suatu performance
appraisal atau penilaian kinerja terlebih dahulu sebelum reward dan
punishment diberikan. Hati-hati dengan pemberian punishment, karena
dalam banyak hal, pembinaan jauh lebih bermanfaat.
Terdapat suatu mekanisme performance appraisal atau penilaian kinerja
yang relatif obyektif, yaitu dengan melibatkan berbagai pihak. Konsep
yang sangat terkenal adalah penilaian 360 derajat, di mana penilaian
kinerja dilakukan oleh atasan, rekan sekerja, pengguna jasa, serta
bawahan. Pada prinsipnya manusia itu berpikir secara subyektif, tetapi
berpikir bersama mampu mengubah sikap subyektif itu menjadi sangat
mendekati obyektif. Dengan demikian, ternyata berpikir bersama jauh
lebih obyektif daripada berpikir sendiri-sendiri. Ini adalah semangat
yang ingin dibawa oleh konsep penilaian 360 derajat. Walaupun banyak
kritik yang diberikan terhadap konsep ini, tetapi cukup banyak yang
menggunakannya di berbagai organisasi.
Terdapat suatu gaya kepemimpinan (leadership style) yang mengarah kepada
pembentukan organisasi berkinerja tinggi. Inti dari kepemimpinan
seperti ini adalah adanya suatu proses coaching, counseling, dan
empowerment kepada para bawahan atau sumber daya manusia di dalam
organisasi. Satu aspek lain yang sangat penting dalam gaya kepemimpinan
adalah, sikap followership, atau menjadi pengikut.
Bayangkan jika semua orang menjadi komandan di dalam organisasi, lantas
siapakah yang menjadi pelaksana ? Bukannya kinerja tinggi yang muncul,
melainkan kekacauan di dalam organsiasi (chaos). Sejatinya, pada kondisi
tertentu seseorang harus memiliki jiwa kepemimpinan, tetapi pada
situasi yang lain, dia juga harus memahami bahwa dia juga merupakan
bagian dari sebuah sistem organisasi yang lebih besar, yang harus dia
ikuti.
Menerapkan konsep manajemen SDM berbasis kompetensi. Umumnya organisasi
berkinerja tinggi memiliki kamus kompetensi dan menerapkan kompetensi
tersebut kepada hal-hal penting, seperti manajemen kinerja, rekruitmen
dan seleksi, pendidikan dan pengembangan, dan promosi. Seperti yang
diuraikan pada awal makalah ini, kompetensi tersebut setidaknya mencakup
3 (tiga) hal, yaitu kompetensi inti organsiasi, kompetensi perilaku,
serta kompetensi teknikal yang spesifik terhadap pekerjaan.
Jika kompetensi ini sudah dibakukan di dalam organisasi, maka kegiatan
manajemen SDM akan menjadi lebih transparan, dan pimpinan organisasi
juga dengan mudah mengetahui kompetensi apa saja yang perlu diperbaiki
untuk membawa organisasi menjadi berkinerja tinggi.
D. PRISIP DASAR MANAJEMEN KINERJA
Berdasarkan studi literatur yang saya lakukan terhadap sejumlah buku,
artikel, makalah, dan sumber-sumber literatur lainnya, maka manajemen
kinerja yang baik untuk menuju organisasi berkinerja tinggi, harus
mengikuti kaidah-kaidah berikut ini.
Terdapat suatu indikator kinerja (key performance indicator) yang
terukur secara kuantitatif, serta jelas batas waktu untuk mencapainya.
Tentu saja ukuran ini harus menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi
oleh organisasi tersebut. Jika pada organisasi bisnis atau komersial,
maka indikator kinerjanya adalah berbagai aspek finansial seperti laba,
pertumbuhan penjualan, lalu indikator pemasaran seperti jumlah
pelanggan, dan sebagainya. Sedangkan pada organisasi pemerintahan
seperti POLRI, maka ukuran kinerja tentu berbagai bentuk pelayanan
kepada masyarakat.
Semuanya harus terukur secara kuantitatif dan dimengerti oleh berbagai
pihak yang terkait, sehingga nanti pada saat evaluasi kita bisa
mengetahui, apakah kinerja sudah mencapai target atau belum. Michael
Porter, seorang profesor dari Harvard Business School mengungkapkan
bahwa kita tidak bisa memanajemeni sesuatu yang tidak dapat kita ukur.
Jadi, ukuran kuantitatif itu penting. Organisasi yang tidak memiliki
indikator kinerja, biasanya tidak bisa diharapkan mampu mencapai kinerja
yang memuaskan para pihak yang berkepentingan (stakeholders).
Semua ukuran kinerja tersebut biasanya dituangkan ke dalam suatu bentuk
kesepakatan antara atasan dan bawahan yang sering disebut sebagai
kontrak kinerja (performance contract). Dengan adanya kontrak kinerja,
maka atasan bisa menilai apakah si bawahan sudah mencapai kinerja yang
diinginkan atau belum. Kontrak kinerja ini berisikan suatu kesepakatan
antara atasan dan bawahan mengenai indikator kinerja yang ingin dicapai,
baik sasaran pancapaiannya maupun jangka waktu pencapaiannya. Ada 2
(dua) hal yang perlu dicantumkan dalam kontrak kinerja, yaitu sasaran
akhir yang ingin dicapai (lag) serta program kerja untuk mencapainya
(lead).
Mengapa keduanya dicantumkan ? Supaya pada saat evaluasi nanti berbagai
pihak bisa bersikap fair, tidak melihat hasil akhir semata, melainkan
juga proses kerjanya. Adakalanya seorang bawahan belum mencapai semua
hasil akhir yang ditargetkan, tetapi dia sudah melaksanakan semua
program kerja yang sudah digariskan. Tentu saja atasan tetap harus
memberikan reward untuk dedikasinya, walaupun sasaran akhir belum
tercapai. Ini juga bisa menjadi basis untuk perbaikan di masa yang akan
datang (continuous improvements).
Terdapat suatu proses siklus manajemen kinerja yang baku dan dipatuhi untuk dikerjakan bersama, yaitu
• perencanaan kinerja berupa penetapan indikator kinerja, lengkap dengan
berbagai strategi dan program kerja yang diperlukan untuk mencapai
kinerja yang diinginkan, lalu
• pelaksanaan, di mana organisasi bergerak sesuai dengan rencana yang
telah dibuat, jika ada perubahan akibat adanya perkembangan baru, maka
lakukanlah perubahan tersebut, dan terakhir
• evaluasi kinerja, yaitu menganalisis apakah realisasi kinerja sesuai
dengan rencana yang sudah ditetapkan dulu ? Semuanya harus serba
kuantitatif.
Adanya suatu sistem reward dan punishment yang bersifat konstruktif dan
konsisten dijalankan. Konsep reward ini tidak melulu bersifat finansial,
melainkan juga dalam bentuk lain, seperti promosi, kesempatan
pendidikan, dan sebagainya. Reward dan punishment diberikan setelah
melihat hasil realisasi kinerja, apakah sesuai dengan indikator kinerja
yang telah direncanakan atau belum. Tentu saja ada suatu performance
appraisal atau penilaian kinerja terlebih dahulu sebelum reward dan
punishment diberikan. Hati-hati dengan pemberian punishment, karena
dalam banyak hal, pembinaan jauh lebih bermanfaat.
Terdapat suatu mekanisme performance appraisal atau penilaian kinerja
yang relatif obyektif, yaitu dengan melibatkan berbagai pihak. Konsep
yang sangat terkenal adalah penilaian 360 derajat, di mana penilaian
kinerja dilakukan oleh atasan, rekan sekerja, pengguna jasa, serta
bawahan. Pada prinsipnya manusia itu berpikir secara subyektif, tetapi
berpikir bersama mampu mengubah sikap subyektif itu menjadi sangat
mendekati obyektif. Dengan demikian, ternyata berpikir bersama jauh
lebih obyektif daripada berpikir sendiri-sendiri. Ini adalah semangat
yang ingin dibawa oleh konsep penilaian 360 derajat. Walaupun banyak
kritik yang diberikan terhadap konsep ini, tetapi cukup banyak yang
menggunakannya di berbagai organisasi.
Terdapat suatu gaya kepemimpinan (leadership style) yang mengarah kepada
pembentukan organisasi berkinerja tinggi. Inti dari kepemimpinan
seperti ini adalah adanya suatu proses coaching, counseling, dan
empowerment kepada para bawahan atau sumber daya manusia di dalam
organisasi. Satu aspek lain yang sangat penting dalam gaya kepemimpinan
adalah, sikap followership, atau menjadi pengikut.
Bayangkan jika semua orang menjadi komandan di dalam organisasi, lantas
siapakah yang menjadi pelaksana ? Bukannya kinerja tinggi yang muncul,
melainkan kekacauan di dalam organsiasi (chaos). Sejatinya, pada kondisi
tertentu seseorang harus memiliki jiwa kepemimpinan, tetapi pada
situasi yang lain, dia juga harus memahami bahwa dia juga merupakan
bagian dari sebuah sistem organisasi yang lebih besar, yang harus dia
ikuti.
Menerapkan konsep manajemen SDM berbasis kompetensi. Umumnya organisasi
berkinerja tinggi memiliki kamus kompetensi dan menerapkan kompetensi
tersebut kepada hal-hal penting, seperti manajemen kinerja, rekruitmen
dan seleksi, pendidikan dan pengembangan, dan promosi. Seperti yang
diuraikan pada awal makalah ini, kompetensi tersebut setidaknya mencakup
3 (tiga) hal, yaitu kompetensi inti organsiasi, kompetensi perilaku,
serta kompetensi teknikal yang spesifik terhadap pekerjaan. Jika
kompetensi ini sudah dibakukan di dalam organisasi, maka kegiatan
manajemen SDM akan menjadi lebih transparan, dan pimpinan organisasi
juga dengan mudah mengetahui kompetensi apa saja yang perlu diperbaiki
untuk membawa organisasi menjadi berkinerja tinggi.
E. PENGERTIAN KEPEMIMPINAN
Pemimpin adalah inti dari manajemen. Ini berarti bahwa manajemen akan
tercapai tujuannya jika ada pemimpin. Kepemimpinan hanya dapat
dilaksanakan oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin adalah seseorang
yang mempunyai keahlian memimpin, mempunyai kemampuan mempengaruhi
pendirian/pendapat orang atau sekelompok orang tanpa menanyakan
alasan-alasannya. Seorang pemimpin adalah seseorang yang aktif membuat
rencana-rencana, mengkoordinasi, melakukan percobaan dan memimpin
pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama-sama .
Kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi perilaku orang-orang lain agar
mau bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu. Definisi itu mengandung
dua pengertian pokok yang sangat penting tentang kepemimpinan, yaitu
Mempengaruhi perilaku orang lain. Kepe-mimpinan dalam organisasi
diarahkan untuk mempengaruhi orang-orang yang dipimpinnya, agar mau
berbuat seperti yang diharapkan ataupun diarahkan oleh orang yang
memimpinnya.
Motivasi orang untuk berperilaku ada dua macam, yaitu motivasi
ekstrinsik dan motivasi intrinsik. Dalam hal motivasi ekstrinsik perlu
ada faktor di luar diri orang tersebut yang mendorongnya untuk
berperi-laku tertentu. Dalam hal semacam itu kepemimpinan adalah faktor
luar. Sedang motivasi intrinsik daya dorong untuk berperilaku tertentu
itu berasal dari dalam diri orang itu sendiri. Jadi semacam ada
kesadaran kemauan sendiri untuk berbuat sesuatu, misalnya memperbaiki
mutu kerjanya.
Kepemimpinan yang merupakan faktor eksternal tadi, harus selalu dapat
memotivasi anggota organisasi perguruan tinggi untuk melakukan
perbaikan-perbaikan mutu. Tetapi kalau setiap kali dan dalam setiap hal
harus memberi perintah atau pengarahan, itu akan menimbulkan kesulitan.
Kalau setiap melakukan pekerjaan dengan baik itu harus dengan perintah
pimpinan, dan kalau tidak ada perintah pimpinan tidak dilakukan
pekerjaan dengan baik, maka perbaikan mutu kinerja yang terus menerus
akan sulit diwujudkan. Oleh karena itu MMT mengajarkan agar kepemimpinan
itu selain untuk memberi pengarahan atau perintah tentang hal-hal yang
perlu ditingkatkan mutunya, juga perlu digunakan untuk menumbuhkan
motivasi intrinsik, yaitu menumbuhkan kesadaran akan perlunya setiap
orang dalam perguruan tinggi itu selalu berupaya meningkatkan mutu
kinerjanya masing-ma-sing secara individual maupun bersama-sama sebagai
kelompok ataupun sebagai organisasi.
F. PRINSIP KEPEMIMPINAN
• Seorang yang belajar seumur hidup
Tidak hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga diluar sekolah.
Contohnya, belajar melalui membaca, menulis, observasi, dan mendengar.
Mempunyai pengalaman yang baik maupun yang buruk sebagai sumber belajar.
• Berorientasi pada pelayanan
Seorang pemimpin tidak dilayani tetapi melayani, sebab prinsip pemimpin
dengan prinsip melayani berdasarkan karir sebagai tujuan utama. Dalam
memberi pelayanan, pemimpin seharusnya lebih berprinsip pada pelayanan
yang baik.
• Membawa energi yang positif
Setiap orang mempunyai energi dan semangat. Menggunakan energi yang
positif didasarkan pada keikhlasan dan keinginan mendukung kesuksesan
orang lain. Untuk itu dibutuhkan energi positif untuk membangun hubungan
baik. Seorang pemimpin harus dapat dan mau bekerja untuk jangka waktu
yang lama dan kondisi tidak ditentukan. Oleh karena itu, seorang
pemimpin harus dapat menunjukkan energi yang positif, seperti ;
• Percaya pada orang lain
Seorang pemimpin mempercayai orang lain termasuk staf bawahannya,
sehingga mereka mempunyai motivasi dan mempertahankan pekerjaan yang
baik. Oleh karena itu, kepercayaan harus diikuti dengan kepedulian.
• Keseimbangan dalam kehidupan
Seorang pemimpin harus dapat menyeimbangkan tugasnya. Berorientasi
kepada prinsip kemanusiaan dan keseimbangan diri antara kerja dan olah
raga, istirahat dan rekreasi. Keseimbangan juga berarti seimbang antara
kehidupan dunia dan akherat.
• Melihat kehidupan sebagai tantangan
Kata ‘tantangan’ sering di interpretasikan negatif. Dalam hal ini
tantangan berarti kemampuan untuk menikmati hidup dan segala
konsekuensinya. Sebab kehidupan adalah suatu tantangan yang dibutuhkan,
mempunyai rasa aman yang datang dari dalam diri sendiri. Rasa aman
tergantung pada inisiatif, ketrampilan, kreatifitas, kemauan,
keberanian, dinamisasi dan kebebasan.
• Sinergi
Orang yang berprinsip senantiasa hidup dalam sinergi dan satu katalis
perubahan. Mereka selalu mengatasi kelemahannya sendiri dan lainnya.
Sinergi adalah kerja kelompok dan memberi keuntungan kedua belah pihak.
Menurut The New Brolier Webster International Dictionary, Sinergi adalah
satu kerja kelompok, yang mana memberi hasil lebih efektif dari pada
bekerja secara perorangan. Seorang pemimpin harus dapat bersinergis
dengan setiap orang atasan, staf, teman sekerja.
• Latihan mengembangkan diri sendiri
Seorang pemimpin harus dapat memperbaharui diri sendiri untuk mencapai keberhasilan yang tinggi.
G. Kepemimpinan Manajemen
Untuk menerapkan Manajemen dalam suatu organisasi diperlukan adanya
kepemimpinan yang ciri-cirinya berbeda dengan kepemimpinan yang tidak
untuk meraih mutu. Manajemen diterapkan dalam organisasi yang melihat
tugas organisasinya tidak sekedar melaksanakan tugas rutin, yang sama
saja dari hari ke hari berikutnya. Semua sudah ditentukan standarnya,
dan kalau kinerja sudah sesuai standar maka bereslah segalanya.
Manajemen juga mengenal standar kinerja, tetapi bedanya standar ini
bersifat dinamis, artinya standar itu selalu bisa ditingkatkan. Sehingga
memungkinkan terjadinya peningkatan mutu secara berkelanjutan. Untuk
itu Manajemen memerlukan kepemimpinan yang mempu-nyai ciri-ciri yang
agak khusus seperti yang akan dibahas berikut ini.
Kepemimpinan lebih diarahkan kepada kelompok-kelompok kerja yang
memiliki tugas atau fungsi masing-masing, tidak memfokus kepada
individu. Hal ini akan berakibat tumbuh berkembangnya kerjasama dalam
kelompok-kelompok. Motivasi individu akan menjadi tugas semua orang
dalam kelompok, jadi kelompok kerja menjadi sumber motivasi bagi setiap
ang-gota dalam kelompok. Karena pimpinan selalu menilai kinerja
kelompok, bukan individu, maka ma-sing-masing kelompok akan berusaha
memacu kerjasama yang sebaik-baiknya, kalau perlu dengan menarik-narik
teman sekelompoknya yang kurang benar kerjanya.
Kepemimpinan Manajemen tidak selalu membuat keputusan sendiri dalam
segala hal, tetapi hanya melakukannya dalam hal-hal yang akan lebih baik
kalau dia yang memutuskannya. Sisanya diserahkan wewenangnya kepada
ke-lompok-kelompok yang ada di bawah pengawasannya. Hal ini dilakukan
terutama untuk hal-hal yang menyangkut cara melaksanakan pekerjaan
secara teknis. Orang-orang yang ada dalam kelompok-kelompok kerja yang
sudah mendapatkan pelatihan dan sehari-hari melakukan pekerjaan itulah
yang lebih tahu bagaimana melakukan pekerjaan dan karenanya menjadi
lebih kompeten untuk membuat keputusan dari pada sang pimpinan.
Setiap upaya meningkatkan mutu kinerja, apakah itu dalam mengha-silkan
barang atau menghasilkan jasa, pada dasarnya selalu diperlukan adanya
perubahan cara kerja. Jadi kalu diinginkan adanya mutu yang lebih baik
jangan takut menghadapi perubahan, se-bab tanpa perubahan tidak akan
terjadi peningkatan mutu kinerja. Perubahan bisa diciptakan oleh
pemimpin, tetapi tidak perlu harus selalu berasal dari pimpinan, sebab
kemampuan pemim-pinpun terbatas. Oleh karena itu pemimpin justru perlu
merangsang timbulnya kreativitas di ka-langan orang-orang yang
dipimpinnya guna menciptakan hal-hal baru yang sekiranya akan
menghasilkan kinerja yang lebih bermutu. Seorang pemimpin tidak
selayaknya memaksakan ide-ide lama yang sudah terbukti tidak dapat
menghasilkan mutu kinerja seperti yang diharap-kan. Setiap ide baru yang
dimaksudkan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih bermutu dari manapun
asalnya patut disambut baik. Orang-orang dalam organisasi harus dibuat
tidak takut untuk berkreasi, dan orang yang terbukti menghasilkan ide
yang bagus harus diberi pengakuan dan penghargaan.
Seorang pimpinan Manajemen selalu mendambakan pembaharuan, sebab dia
tahu bahwa hanya dengan pembaharuan akan dapat dihasilkan mutu yang
lebih baik. Oleh karena itu dia harus selalu mendorong semua orang dalam
organisasinya untuk berani melakukan inovasi-inovasi, baik itu
menyangkut cara kerja maupun barang dan jasa yang dihasilkan. Tentu
semua itu dilakukan melalui proses uji coba dan evaluasi secara ketat
sebelum diadopsi secara luas dalam organisasi. Sebaliknya seo-rang
pimpinan tidak sepatutnya mempertahankan kebiasaan-kebiasaan kerja lama
yang sudah terbukti tidak menghasilkan mutu seperti yang diharapkan olah
organisasi maupun oleh para pe-langgannya.
Manajemen selalu mengupayakan adanya kerjasama dalam tim, kelompok, atau
dalam unit-unit organisasi. Program-program mulai dari tahap
peren-canaan sampai ke pelaksanaan dan evaluasinya dilaksanakan melalui
kerjasama, dan bukan pro-gram sendiri-sendiri yang bersifat individual.
Adanya sistem kerja yang didasari oleh kerjasama dalam tim, kelompok
atau unit itu harus selalu menjadi pemikiran para pimpinan Manajemen.
Dasarnya adalah pengikut-sertaan semua orang dalam kegiatan-kegiatan
yang sesuai dengan ba-kat, minat dan kemampuan masing-masing orang.
Orang adalah aset terpenting dalam organisasi dan karena itu setiap
orang yang ada harus dimanfaatkan secara optimal bagi kepentingan
penca-paian tujuan organisasi.
1. Bertindak proaktif.
Pemimpin Manajemen selalu bertindak proaktif yang bersifat preventif dan
an-tisipatif. Pemimpin Manajemen tidak hanya bertindak reaktif yang
mulai mengambil tindakan bila su-dah terjadi masalah. Pimpinan yang
proaktif selalu bertindak untuk mencegah munculnya masa-lah dan
kesulitan di masa yang akan datang. Setiap rencana tindakan sudah
difikirkan akibat dan konsekuensi yang bakal muncul, dan kemudian
difikirkan bagaimana cara untuk mengeliminasi hal-hal yang bersifat
negatif atau sekurang berusaha meminimalkannya. Dengan demikian
ke-hidupan organisasi selalu dalam pengendalian pimpinan dalam arti
semua sudah dapat diper-hitungkan sebelumnya, dan bukannya memungkinkan
munculnya masalah-masalah secara me-ngejutkan dan menimbulkan kepanikan
dalam organisasi. Tindakan yang reaktif biasanya sudah terlambat atau
setidaknya sudah sempat menimbulkan kerugian atau akibat negatif
lainnya.
2. Memperhatikan sumberdaya manusia.
Sudah dikatakan sebelumnya bahwa orang adalah sumberdaya yang paling
utama dan paling berharga dalam setiap organisasi. Oleh karena itu SDM
harus selalu mendapat perhatian yang besar dari pimpinan Manajemen dalam
arti selalu diupa-yakan untuk lebih diberdayakan agar
kemampuan-kemampuannya selalu meningkat dari waktu ke waktu. Dengan
kemampuan yang meningkat itulah SDM itu dapat diharapkan untuk
mening-katkan mutu kinerjanya. Program-program pelatihan, pendidikan dan
lain-lain kegiatan yang bersifat memberdayakan SDM harus dilembagakan
dalam arti selalu direncanakan dan dilaksa-nakan bagi setiap orang
secara bergiliran sesuai keperluan dan situasi
3. Bicara tentang adanya persaingan ketat.
Bila berbicara tentang mutu tentu akan terlintas adanya mutu yang tinggi
dan mutu yang rendah. Bila dikatakan bahwa kinerja suatu organisasi
itu tinggi tentu karena dibandingkan dengan mutu organisasi lain yang
kenyataannya lebih rendah. Artinya mutu tentang segala sesuatu itu
sifatnya relatif, bukan absolut. Setidaknya begitulah pengertian mutu
menurut Manajemen. Pimpinan dalam Manajemen dianjurkan melakukan
pem-bandingan dengan organisasi lain, membandingkan mutu organisasinya
dengan mutu organisasi lain yang sejenis. Kegiatan ini disebut
benchmarking. Pimpinan Manajemen selalu berusaha menya-mai mutu kinerja
organisasi lain dan kalau bisa bahkan berusaha melampaui mutu organisasi
lain. Bila pimpinan berbicara tentang mutu organisasi lain dan kemudian
ingin menyamai atau melebihi mutu organisasi lain itu, berarti pmpinan
itu berbicara tentang persaingan. Setiap organisasi berusaha mendapatkan
pelanggan yang lebih banyak dan yang berciri lebih baik. Usaha ini
hanya akan berhasil kalau organisasi itu mampu berkinerja yang mutunya
lebih tinggi dari organisasi lain. Ini persaingan. Manajemen
dikembangkan untuk memenangkan persaingan. Oleh karena itu pimpinan
Manajemen selalu harus menyadari adanya persaingan dan berbicara tentang
itu dengan orang-orang dalam organisasinya.
4. Membina karakter, budaya dan iklim organisasi.
Karakter suatu organisasi tercermin dari pola sikap dan perilaku
orang-orangnya. Sikap dan perilaku organsasi yang cenderung menim-bulkan
rasa senang dan puas pada fihak pelanggan-pelanggannya perlu dibina
oleh pimpinan. Demikian pula budaya organisasi yang menjunjung tinggi
nilai-nilai tertentu yang relevan dengan mutu yang diinginkan oleh
organisasi itu juga perlu dibina. Misalnya dalam lembaga pendidikan
perlu dikembangkan budaya yang menjunjung tinggi nilai-nilai belajar,
kejujuran, kepelayanan, dan sebagainya. Nilai-nilai yang merupakan
bagian dari budaya organisasi itu harus menjadi pedoman dalam bersikap
dan berperilaku dalam organisasi. Namun demikian ka-rakter dan budaya
organisasi itu hanya akan tumbuh dan berkembang bila iklim organisasi
itu menunjang. Olah karena itu pimpinan juga harus selalu membina iklim
organisasinya agar kon-dusif bagi tumbuh dan berkembangnya karakter dan
budaya organisasi tadi. Misalnya dengan menciptakan dan melaksanakan
sistem penghargaan yang mendorong orang untuk bekerja dan berprestasi
lebih baik. Atau pimpinan yang selalu berusaha berperilaku sedemikian
rupa hingga dapat menjadi model yang selalu dicontoh oleh orang-orang
lain.
5. Kepemimpinan yang tersebar.
Pemimpin Manajemen tidak berusaha memusatkan kepemimpinan pada dirinya,
tetapi akan menyebarkan kepemimpinan itu pada orang-orang lain, dan
hanya me-nyisakan pada dirinya yang memang harus dipegang oleh seorang
pimpinan. Kepemimpinan yang dimaksudkan adalah pengambilan keputusan dan
pengaruh pada orang lain. Pengambilan tentang kebijaksanaan organisasi
tetap ditangan pimpinan-atas, dan lainnya yang bersifat operasional atau
bersifat teknis disebarkan kepada orang-orang lain sesuai dengan
kedudukan dan tugasnya. Dalam banyak hal bahkan pengambilan keputusan
itu diserahkan kepada tim atau kelompok kerja tertentu. Dengan demikian
ketergantungan organisasi pada pimpinan akan sangat kecil, tetapi
sebagian besar dari orang-orang dalam organisasi itu memiliki
kemandirian yang tinggi. Kondisi semacam ini tentu saja akan tercapai
melalui penerapan Manajemen yang baik dan benar, dan setelah melalui
proses pembinaan yang panjang. Makin banyak dari kesepuluh ciri itu yang
diterapkan oleh pimpinan Manajemen semakin baiklah mutu
kepemimpinannya, dalam arti makin baiklah suasana kerja yang kondusif
untuk terciptanya mutu, dan makin kuatlah dorongan yang diberikan kepada
orang-orang dalam orga- nisasinya untuk meningkatkan mutu kinerjanya.
Kesepuluh hal tersebut perlu dihayati dan di-praktekkan oleh semua
pimpinan , dari yang tertinggi sampai yang terrendah, sehingga akhirnya
akan menjelma menjadi pola tindak yang normatif dari semua unsur
pimpinan.
BAB IV
A. KESIMPULAN
Untuk menerapkan Manajemen dalam suatu organisasi diperlukan adanya
kepemimpinan yang ciri-cirinya berbeda dengan kepemimpinan yang tidak
untuk meraih mutu. Manajemen diterapkan dalam organisasi yang melihat
tugas organisasinya tidak sekedar melaksanakan tugas rutin, yang sama
saja dari hari ke hari berikutnya. Semua sudah ditentukan standarnya,
dan kalau kinerja sudah sesuai standar maka bereslah segalanya.
Manajemen juga mengenal standar kinerja, tetapi bedanya standar ini
bersifat dinamis, artinya standar itu selalu bisa ditingkatkan. Sehingga
memungkinkan terjadinya peningkatan mutu secara berkelanjutan. Untuk
itu Manajemen memerlukan kepemimpinan yang mempu-nyai ciri-ciri yang
agak khusus seperti yang akan dibahas berikut ini.
Kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi perilaku orang-orang lain agar
mau bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu. Definisi itu mengandung
dua pengertian pokok yang sangat penting tentang kepemimpinan, yaitu
Mempengaruhi perilaku orang lain. Kepe-mimpinan dalam organisasi
diarahkan untuk mempengaruhi orang-orang yang dipimpinnya, agar mau
berbuat seperti yang diharapkan ataupun diarahkan oleh orang yang
memimpinnya.
OLDER POST | NEWER POST