Makalah Tasawuf & Tarekat
Selasa, 06 November 2012 ★ 02.39 │
Latar Belakang Masalah
Zaman sekarang disebut zaman modern, ditandai dengan
kemakmuran material, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, serba
mekanik dan otomatis. Materi telah mampu memberikan kesenangan dan kenyamanan
lahiriyah.Namun, semua itu pada taraf tertentu, telah menimbulkan
kebosanan. Bahkan banyak membawa bencana. Salah satunya adalah manusia modern telah dilanda
kehampaan spiritual. Di tengah suasana
seperti itu, manusia merasakan kerinduan akan nilai-nilai ketuhanan,nilai-nilai
ilahiyah, nilai-nilai yang dapat menuntun manusia kembali kepada fitrahnya.
Karena itu manusia mulai tertarik untuk
mempelajari tasawwuf dan berusaha untuk mengamalkannya.Hal ini terlihat dengan
tumbuhnya majlis-majlis pengajian tasawwuf dengan segala amalan-amalan dan
dzikir-dzikirnya. Majlis- majlis tasawuf inilah yang kemudian populer
dengan istilah tarekat.
Tasawuf adalah
salah satu cabang ilmu Islam yang menekankan dimensi atau aspek spiritualdalam
Islam. Dalam kaitannya dengan manusia, tasawuf lebih menekankan aspek rohaninya
ketimbang
aspek jasmaninya. Dalam kaitannya dengan kehidupan, ia lebih menekankan kehidupan akhirat ketimbang kehidupan
dunia yang fana. Orang yang ahli dalam
tasawuf disebut dengan seorang sufi. Seorang sufi menekankan aspek rohaninya
daripada aspek jasmaninya. Seorang sufi selalu berusaha untuk dekat dengan
Tuhan-nya. Dan untuk mencapai itu, terdapat
tingkatannya, yaitu tobat, zuhud, sabar, kerendahan hati, takwa, tawakkal,
kerelaan, dan ma'rifat. Dan dalam makalah
ini akan mencoba membahas tentang pengertian tarekat dan tasawuf serta hubungan
antara keduanya.
A.
Pengertian Tarekat
Tarekat
adalah jalan yang ditempuh menuju keridhaan Allah semata-mata. tarekat berasal dari
kata Thoriqoh yang berarti jalan. Dalam
artian jalan yang mengacu kepada suatu sistem latihan meditasi maupun
amalan-amalan yang dihubungkan dengan guru sufi. Istilah ini kemudian
berkembang menjadi organisasi yang tumbuh seputar metode sufi yang khas atau
institusi yang menaungi faham tasawuf. Dengan demikian dapat dimaklumi bahwa
tarekat adalah jalan atau petunjuk jalan atau cara yang dipakai oleh
salik (para penempuh jalan) menuju Allah Ta’ala melalui tahapan-tahapan atau
maqamat.
Tarekat memiliki dua
pengertian yaitu :
·
metode
pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya
menuju kedekatan diri dengan Tuhan.
·
Tarekat
sebagai persaudaraan kaum sufi (sufi brotherhood) yang ditandai dengan adanya
lembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah, dari
unsur-unsur tersebut, salah satunya yang sangat penting bagi sebuah tarekat
adalah silsilah. Silsilah menjadi tolok ukur sebuah tarekat itu
muktabarah (dianggap sah) atau tidak.
Sasaran
orang yang bertarikat adalah mencari ridha Allah semata dan memurnikan tauhid
kepadaNya. Tauhid dijadikan pola pikir, dalam bersikap “Ilahi anta maqshuudii
waridhaaka mathluubii” dan dalam bertindak sesuai dengan Al Qur’an dan Al
Hadis.
Macam-macam
Tarekat
v
Tarekat Naqsyabandiyah
Tarekat
Naqsyabandiyah didirikan oleh Muhammad Bahauddin An-Naqsabandi Al-Uwaisi
Al-Bukhari tahun 1389M di Turkistan. Tarekat ini merupakan salah satu tarekat
sufi yang paling luas penyebarannya, dan terdapat banyak di wilayah Asia Muslim
serta Turki, Bosnia-Herzegovina, dan wilayah Volga Ural. Ciri yang
menonjol dari Tarekat Naqsyabandiyah adalah diikutinya syari’at secara ketat,
keseriusan dalam beribadah menyebabkan penolakan terhadap musik dan tari, serta
lebih mengutamakan berdzikir dalam hati, dan kecenderungannya semakin kuat ke
arah keterlibatan dalam politik (meskipun tidak konsisten). Penganut Naqsyabandiyah mengenal 11 asas
Thariqah. Delapan dari asas itu dirumuskan oleh ‘Abd al-Khaliq Ghuzdawani,
sedangkan sisanya adalah penambahan oleh Baha’ al-Din Naqsyaband.
1.
Asas-asasnya ‘Abd
al-Khaliq adalah :
·
Hush
dar dam yaitu sadar sewaktu
bernafas
·
Nazar
bar qadam yaitu menjaga
langkah sewaktu berjalan.
·
Safar
dar watan yaitu
melakukan perjalanan di tanah kelahirannya
·
Khalwat
dar anjuman yaitu sepi
di tengah keramaian
·
Yad
kard yaitu ingat atau
menyebut. Terus-menerus mengulangi nama Allah yang biasa disebut dengan dzikir.
Oleh sebab itu, bagi penganut Naqsyabandiyah, dzikir itu tidak dilakukan
sebatas berjama`ah ataupun sendirian sehabis shalat, tetapi harus terus-menerus,
agar di dalam hati bersemayam kesadaran akan Allah yang permanen.
·
Baz
gasyt yaitu kembali atau
memperbarui. Demi mengendalikan hati supaya tidak condong kepada hal-hal yang
menyimpang (melantur)
·
Nigah
dasyt yaitu
waspada untu menjaga pikiran dan perasaan terus-menerus sewaktu melakukan
dzikir tauhid.
·
Yad
dasyt: mengingat kembali
2.
Asas-asas Tambahan dari
Baha al-Din Naqsyabandiyah:
·
Wuquf-i zamani yaitu memeriksa penggunaan waktu
seseorang
·
Wuquf-i ‘adadi yaitu memeriksa hitungan dzikir
seseorang
·
Wuquf-i qalbi yaitu menjaga hati tetap terkontrol
Teknik
dasar Naqsyabandiyah, seperti kebanyakan tarekat lainnya, adalah dzikir yaitu
berulang-ulang menyebut nama Tuhan ataupun menyatakan kalimat la ilaha
illallah. Tujuan latihan itu ialah untuk mencapai kesadaran akan Tuhan yang
lebih langsung dan permanen. Tarekat Naqsyabandiyah membedakan dirinya
dengan aliran lain dalam hal dzikir yang lazimnya adalah jumlah hitungan dzikir
yang mesti diamalkan lebih banyak pada Tarekat Naqsyabandiyah dari pada
kebanyakan tarekat lain.
v Tarekat Qodiriyah
Qodiriyah adalah nama sebuah tarekat yang
didirikan oleh Syeikh Muhyidin Abu Muhammad Abdul
Qodir Jaelani Al Baghdadi (1077-1166M). Tarekat
Qodiriyah berkembang dan berpusat di Iraq dan Syria kemudian diikuti oleh jutaan umat
muslim yang tersebar di Yaman, Turki, Mesir, India, Afrika dan
Asia.Syekh Muhyiddin Abu
Muhammad Abdul Qodir Al-Jaelani Al-Baghdadi, ini adalah urutan ke 17 dari
rantai mata emas mursyid tarekat. Tarekat Qodiriyah ini dikenal luwes,
yaitu bila murid sudah mencapai derajat syekh, maka murid tidak mempunyai suatu
keharusan untuk terus mengikuti tarekat gurunya. Bahkan dia berhak melakukan
modifikasi tarekat yang lain ke dalam tarekatnya. Hal itu seperti tampak pada
ungkapan Abdul Qadir Jaelani sendiri, “Bahwa murid yang sudah mencapai
derajat gurunya, maka dia jadi mandiri sebagai syeikh dan Allah-lah
yang menjadi walinya
untuk seterusnya.
Tarekat ini mementingkan kasih sayang terhadap semua makhluk, rendah hati
dan menjauhi fanatisme dalam keagamaan maupun politik. Keistimewaan tarekatnya
ialah zikir dengan menyebut-nyebut nama Tuhan. Ada anggapan membaca
Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jilani pada tanggal 10 malam tiap bulan bisa
melepaskan kemiskinan. Karena itu manaqibnya populer, baik di Jawa maupun
Sumatera. Adapun asas-asas dalam tarekat Qodiriyah ialah bercita-cita tinggi,
melaksanakan cita-cita, membesarkan nikmat, memelihara kehormatan dan
memperbaiki khidmat kepada Allah SWT. Sedangkan wirid dan zikir yang dilafalkan
ialah “Lailahaillallahu” dengan berdiri sambil bersenam, mengepalkan
tangan ke samping, ke depan, ke muka dengan badan yang sigap, dan putus ingatan
dengan yang lain, kecuali hanya kepada Allah SWT.
Tarekat dalam system ajaran islam
Tarekat
merupakan bagian integral dari ajaran Islam. Islam tanpa tarekat bukanlah Islam
kaffah sebagai yang diajarkan Rasulullah Saw. Islam kaffah adalah Islam yang
terpadu di dalamnya aspek akidah, syari’ah dan haqiqah.tarekat qadiriyyah wa
an-Naqsabandiyah adalah salah satu alian dalam tasawuf yang substansi ajarnnya
merupakan gabungan dari dua tarekat yaitu Qadiriyyah dan naqsabandiyah. Secara
keilmuan dari aqidah lahir ilmu aqa’id, ilmu tauhid, teologi Islam dan ilmu
kalam, dari syariah lahir ilmu Fikih dengan segala cabangnya dan dari aspek
haqiqah lahir ilmu tasawuf dan tarekat. Arti dasar tarekat adalah jalan. Dan
yang dimaksud adalah jalan yang mesti dilalui oleh seorang salik utuk menuju
pintu-pintu tuhan. Imam Malik berkata sebagai dikutip oleh Imam al-Gazali
“Barang siapa bertasawuf tanpa fikih maka dia zindik dan barang siapa berfikih
tanpa tasawuf maka ia masih fasik dan barang siapa yang berislam dengan
memadukan antara fikih dan tasawuf benarlah dia dalam berislam
B.
Pengertian Tasawuf
Definisi tasawuf satu dengan yang lainnya
berbeda-beda tergantung dari sisi mana si pakar tadi meninjaunya. Ada yang
melihat dari sisi sejarah kemunculannya, ada yang melihat dari sisi fenomenan
sosial di abad klasik dan pertengahan, juga ada yang melihatnya dari sisi
substansi ajarannya dan ada juga yang melihat dari sisi tujuannya.
a. Asal-usul Tasawuf
-
Teori
pertama :
menyatakan bahwa secara etimologis tasawuf diambil dari kata “Suffah” yaitu
sebuah tempat di mesjid Rasulullah Saw. (Mesjid Nabawi) yang dihuni oleh
sekelompok sahabat yang hidup zuhud yang konsentrasi beribadah kepada Allah
sambl menimba ilmu dari Rasulullah.
- Teori
kedua, menyatakan bahwa
tasawuf diambil dari kata “sifat” dengan alasan bahwa para sufi suka membahas
sifat-sifat Allah sekaligus mengaplikasikan sifat-sifat Allah tersebut dalam
perilaku mereka sehari-hari.
- Teori
ketiga berpendapat bahwa
kata “tasawuf” daiambil dari akar kata “sufah” artinya selembar bulu, sebab
para sufi dihadapan Tuhannya merasa begaikan selembar bulu yang terpisah dari
kesatuannya yang tidak mempunyai nilai apa-apa.
- Teori
keempat menyatakan bahwa
“tasawuf” diambil dari kata “shofia” yang artinya al-hikmah (bijaksana) sebab
para sufi selalu mencari hikmah ilahiyah dalam kehidupannya.
- Teori kelima, sebagaimana dikemukakan oleh al-Busti seorang fakar
tasawuf, menyatakan bahwa taswuf berasal dari kata “as-safa” yang artinya suci,
bersih dan murni, sebab para sufi membersihkan jiwanya hingga berada dalam
kondisi suci dan bersih. Ada juga teori yang menyatakan bahwa tasawuf berasal
dari akar kata “suf” yang artinya bulu domba (wool), dengan argumentasi wool
kasar yang terbuat dari bulu binatang sebagai tanda kesederhanaan hidup mereka.
b. Pengertian Tasawuf secara
Terminologis
- Menurut
Muhammad bin Ali al-Qasab, guru Imam Junaidi al-Bagdadi,“tasawuf adalah akhlak mulia yang nampak
di zaman yang mulia dari seorang manusia mulia bersama kaum yang mulia”.
- Menurut
al-junaidi al-baghdadi, tasawuf adalah“Engkau ada bersama Allah tanpa
‘alaqah (tanpa perantara)”.
- menurut Usman al-Makki bahwa tasawuf adalah
keadaan dimana seorang hamba
setiap waktu melakukan perbuatan (amal) yang lebih baik dari waktu sebelumnya.
-
Menurut Sarri as-saqiti, tasawuf adalaah “suatu
nama bagi tiga makna yakni : (1) nur ma’rifat nya tidak memadamkan
cahaya kewaraannya, (2) tidak berbicara tentang ilmu
batin yang bertentangan dengan makna zahir al-Kitab atau sunnah, (3)
tidak terbawa oleh karomahnya untuk melanggar larangan Allah”.
- Syekh Abdul Qodir al-Jilani berpendapat bahwa
taswuf adalah mensucika hati dan melepaskan nafsu dari pangkalnya dengan
kholwah, riyadoh dan terus-menerus berdzikir dengan dilandasi iman yang benar,
mahabbah, taubat dan ikhlas.
Sedangkan
secara umum ilmu tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui keadaan jiwa manusia,
terpuji atau tercela, bagaimana cara-cara mensucikan jiwa dari berbagai sifat
yang tercela dan menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji dan bagaimana cara
mencapai jalan menuju Allah.
c. Objek ilmu tasawuf
Obyek
ilmu taswuf adalah perbuatan hati dan panca indera ditinjau dari segi cara
pensuciannya.
d. Buah Ilmu tasawuf
Buah
taswuf adalah terdidiknya hati mengetahui (ma’rifah) terhadap ilmu gaib secara
rohani, selamatdi dunia dan bahagia di akhirat, dengan mendapat keridhaan Allah
e. Keutamaan Ilmu tasawuf
Ilmu
tasawuf adalah ilmu yang paling mulia karena berkaitan dengan ma’rifah kepada
Allah ta’ala dan mahabbah kepada-Nya
f. Hubungan Ilmu tasawuf dengan Ilmu
lain-Nya
Nisbah
ilmu taswuf terhadap ilmu yang lain bagaikan nisbah ruh bagi jasad. Ilmu
tasawuf adalah ruh, sementara ilmu yang lain adalah jasad. Jasad tidaklah dapat
hidup tanpa ruh
g. Pencipta ilmu tasawuf
Pencipta
ilmu tasawuf adalah Allah Tabaraka wa Ta’ala. Allah menciptakan ilmu ini kepada
Rasulullah dan para Nabi sebelumnya
h. Nama-nama ilmu tasawuf
Ilmu
tasawuf mempunyai beberapa nama antara lain:
1.
Ilmu batin
2.
Ilmu al-qalbi
3.
Ilmu laduni
4.
Ilmu mukasyafah
5.
Ilmu asrar
6.
Ilmu maknun
7.
Ilmu hakikat
i. Pilar Ilmu tasawuf
Pilar
ilmu tasawuf ada lima perkara yaitu :
- Taqwallah (bertakwa kepada Allah) baik
sewaktu sirr maupun ‘alabiyah (terbuka).
- Mengikuti Sunnah baik qauli maupun fi’li
serta mengaktualisasikannya dalam penjagaan diri dan akhlak yang baik.
- Berpaling dari makhluk yang diwujudkan
dalam sikap sabar dan tawakkal.
Rida terhadap ketentuan Allah yang diwujudkan dengan sikap qona’ah dan menerima
(tafwid).
- Kembali kepada Allah baik sikala senang
maupun di waktu susah.
j. Sumber ilmu tasawuf
Ilmu
tasawuf diambil dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. Juga dari atsar
assabitah (jejak yang sudah tetap) dari umat-umat pilihan di masa silam.
k. Hukum mempelajari tasawuf
Hukum
mempelajarai ilmu tasawuf adalah wajib ain artinya kewajiban yang mengikat
kepada setiap individu muslim.
Oleh
karena itu, sebagian ulama ahli ma’rifah berkata “Barang siapa yang tidak
memiliki ilmu ini sedikitpun (ilmu batin), aku hawatir ia berakhir dengan su’ul
khatimah”. Paling tidak seorang mukmin harus membenarkan akan ilmu ini dan
menyerahkan kepada ahlinya.
l. Masalah-masalah yang dibahas dalam ilmu
tasawuf
Masalah
inti yang dibahas dalam ilmu tasawuf adalah sifat-sifat jiwa manusia, cara-cara
pensucian jiwa, dan penjelasan istilah-istilah yang khas dalam disiplin ilmu
ini misalnya; maqamat, taubat, zuhud, wara’, al-mahabbah, fana baqa dan yang
lainnya.
C.
Perkembangan ilmu tasawuf
Secara keilmuan, tasawuf adalah disiplin
ilmu yang baru dalam syari’at Islam, demikian menurut Ibnu Khaldun.
Adapaun asal-usul tasawuf menurutnya adalah konsentrasi ibadah kepada Allah,
meninggalkan kemewahan dan keindahan dunia dan menjauhkan diri dari akhluk.
Ketika kehidupan materialistik mulai mencuat dalam peri kehidupan masyarakat
muslim pada abad kedua dan ketiga hijriyyah sebagai akibat dari kemajuan
ekonomi di dunia Islam, orang-orang yang konsentrasi beribadah dan menjauhkan
diri dari hiruk pikuknya kehidupan dunia disebutlah kaum sufi.
Berbeda
dengan Ibnu Khaldun, Muhammad Iqbal dalam bukunya “Tajdid al-Fikr ad-Dini
al-Islam” berpendapat bahwa tasawuf telah ada semenjak Nabi. Riyadoh Diniyyah
telah lama menyertai kehidupan manusia sejak awal-awal Islam bahkan kehidupan
ini semakin mengental didalam sejarah kemanusiaan. Menurut sebagian fakar, Imam
Ali bin Abi Thalib adalah orang pertama yang memunculkan istilah taswuf.
Islam, iman dan ihsan adalah landasan untuk melakukan suluk
dan taqqarub kepada Allah. ‘Iz bin Abdissalam berpendapat bahwa sistematika
keberagamaan bagi kaum muslimin, yang pertama adalah Islam. Islam merupakan
tingkat pertama beragama bagi kaum awam. Iman adalah tingkatan pertama bagi
hati orang khusus kaum mukminin, sedangkan ihsan adalah tingkatan pertama bagi
ruh kaum muqarribin.
D.
Rukun tasawuf
Al-Kalabazi
dengan mengutip pendapat Abu al-Hasan Muhammad bin Ahmad al-Farisi menerangkan
bahwa rukun tasawuf ada sepuluh macam, antara lain :
1. Tajrid at-Tauhid (memurnikan tauhid)
2. Memahami informasi. Maksudnya
mendengar tingkah laku bukan hanya mendengar ilmu saja.
3. Baik dalam pergaulan.
4. Mengutamakan kepentingan orang
banyak ketimbang kepentingan diri sendiri.
5. Meninggalkan banyak pilihan.
6. Ada kesinambungan antara pemenuhan
kepentingan lahir dan batin.
7. Membuka jiwa terhadap intuisi (ilham).
8. Banyak melakukan bepergian untuk
menyaksikan keagungan alam ciptaan Tuhan sekaligus mengambil pelajaran.
9. Meninggalkan iktisab untuk menumbuhkan
tawakkal.
10. Meninggalkan iddikhar (banyak simpanan)
dalam keadaan tertentu kecuali dalam rangka mencari ilmu.
E. Hubungan antara
tarekat dan tasawuf
Tarekat
merupakan intipati pelajaran Ilmu Tasawwuf, yang mana dengannya seseorang
itu dapat menyucikan dirinya dari segala sifat-sifat yang keji dan
menggantikannya dengan sifat-sifat akhlak yang terpuji. Ia juga merupakan Batin
bagi Syari’at yang mana dengannya seseorang itu dapat memahami hakekat
amalan-amalan salih di dalam Agama Islam. Tarekat tidak membicarakan filsafat
tasawuf, tetapi merupakan amalan (tasawuf) atau prakarsanya. Pengalaman tarekat
merupakan suatu kepatuhan secara ketat kepada peraturan-peraturan syari`at
Islam dan mengamalkannya dengan sebaik-baiknya, baik yang bersifat ritual
maupun sosial, yaitu dengan menjalankan praktek-praktek dan mengerjakan amalan
yang bersifat sunat, baik sebelum maupun sesudah sholat wajib, dan mempratekkan
riyadah.
Dengan
demikian, tampaklah hubungan yang erat antara tasawuf dan
tarekat, bahwa antara keduanya tampak sulit dibedakan dan tak bisa dipisahkan
antara yang satu dengan yang lain.
Tasawuf
adalah sebuah ideologi dari institusi yang menaunginya, yaitu tarekat.
Atau dengan kata lain, tarekat merupakan madzhab-madzhab dalam tasawuf. Dan
tarekat merupakan implementasi dari suatu ajaran tasawuf yang kemudian
berkembang menjadi sebuah organisasi sufi dalam rangka mengimplementasikan
suatu ajaran tasawwuf secara bersama-sama.
DAFTAR PUSTAKA
Noer
Iskandar Al Barsyany, Tasawwuf, Tarekat dan Para Sufi, (Jakarta:Grafindo, 2001)
Drs.
Barmawie Umarie, 1961, Sistimatik Tasawuf, Solo, Ramadhani
Drs.
Abuddin Nata, MA., 1998, Ilmu Kalam, Filsafat, dan Tasawuf,
Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada
OLDER POST | NEWER POST