KEPEMIMPINAN KONSTITUSIONAL
Sabtu, 24 November 2012 ★ 01.46 │
TEORI
KEPEMIMPINAN
(Hersey dan
Blanchard)
Dinamika proses
kepemimpinan dalam hal berbangsa dan bernegara,khususnya dalam hal pengambil
suatu kebijakan public, baik melalui analisis maupun pengetahuan, masih banyak
masalah besar yang menghadang. Mengimplementasikan suatu kebijakan public
dengan baik sesuai dengan kebutuhan dan
keinginan masyarakat dalam suatu Negara
demokrasi seperti Indonesia yang masih terhadang dengan sifat feodalisme,
pemusatan birokrasi sentralistis, dan kebodohan. Pengambilan kebijakan dalam
suatu Negara demokrasi menjadi sangat penting, karena dipengaruhi oleh factor
leadership. Leadership adalah hubungan antara yang memimpin dengan yang dipimpin
dapat ditemukan dengan adanya kepercayaan dan percaya diri. Tanpa kepercayaan
dan percaya diri, seseorang biasanya tidak mampu mengambil resiko, tanpa resiko
tidak akan ada yang namanya perubahan. Tanpa yang namanya perubahan, maka
organisasi pemerintahan dan pembangunan itu akan mati. Jadi kepemimpinan itu
juga berani untuk mengambil resiko yang diwujudkan dalam suatu kebijakan public
untuk kepentingan masyarakat yang dipimpin. Oleh sebab itu, kita diwajibkan
mengimplementasikan kepemimpinan yang berfokus pada pelayanan dan menempatkan
rakyat diatas segala-galanya dalam suatu proses pembuatan kebijakan public. Seorang
pemimpin yang efektif memberikan kepuasan kepada bawahannya dan selalu berusaha
memberikan motivasi dan prestasi kerja terhadap bawahan.
Menurut Hersey dan Blanchard “Bahwa seorang
pemimpin dalam menjalankan tugas-tugas kepemimpinannya sebaiknya mengetahui
tingkat kesiapan bawahannya serta dituntut mempunyai kemampuan dalam hal
mengarahkan dan memerintahkan (Telling), mengkomunikasikan keputusan-keputusan
yang diambil dan mempengaruhi bawahannya sehingga mau dan mampu melaksanakan
keputusan tersebut (Selling), melibatkan bawahan dalam proses pengambilan
keputusan (Participating), dan membagi tugas sesuai dengan kemampuan bawahan
(Delegating) sehingga bawahan termotivasi untuk mencapai tujuan yang diinginkan
organisasi”.
Menurut Hersey dan Blanchard dalam Richard “Bahwa seorang pemimpin harus
mampu memilih gaya kepemimpinan yang cocok untuk tingkat kesiapan bawahannya,
tingkat pendidikan dan keterampilan, pengalaman, kepercayaan diri, dan sikap
kerja bawahan. Pada dasarnya tidak ada pemimpin yang dilahirkan, manusia
mungkin memiliki kemampuan tertentu yang memungkinkan berkembang menjadi
pemimpin, tetapi tetap harus ada usaha untuk itu. Hal yang paling penting dan
perlu untuk ditekankan adalah bahwa perbedaan gaya kepemimpinan cocok untuk
situasi tertentu. Kepemimpinan Situasional adalah perilaku (Gaya) kepemimpinan
yang didasarkan atau disesuaikan berdasarkan kemungkinan situasi organisasi. Teori
ini menjelaskan, bahwa harus terdapat daya lenting yang tinggi/luwes pada
pemimpin untuk menyesuaikan diri terhadap tuntutan situasi, lingkungan sekitar
dan zamannya. Factor lingkungan itu harus dijadikan tantangan untuk diatasi.
Maka pemimpin itu harus mampu menyelesaikan masalah – masalah actual. Pemimpin
adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya
kecakapan dan kelebihan di satu bidang, sehingga dia mampu mempengaruhi
orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu,
demi pencapaian satu atau beberapa tujuan. Jadi, pemimpin itu ialah seorang
yang memiliki satu atau beberapa kelebihan sebagai predisposisi (bakat sejak
lahir) dan merupakan kebutuhan dari satu situasi atau zaman, sehingga dia mempunyai
kekuasaan dan kewibawaan untuk mengarahkan dan membimbing bawahan.Pemimpin yang baik itu wajib memahami
kebutuhan-kebutuhan manusiawi baik kebutuhan pribadi sendiri maupun kebutuhan
orang lain, anak buah yang dipimpin dan atasan, serta kolega-kolega sederajat
sehingga dia bersikap bijaksana. kebutuhan adalah segala sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk mempertahankan hidup.Selain hal tersebut pemimpin juga harus mampu
memberikan motivasi kepada bawahannya. Motivasi
adalah dorongan bagi seseorang untuk berbuat sesuatu.Dengan demikian dia akan mampu memuasakan semua pihak dan berhasillah
kepemimpinanya.
Teori kepemimpinan
situasional ini menolong di dalam praktek nyata namun hanya dapat berguna
bila pemimpin mampu membaca dengan
akurat siapa yang dipimpinnya. Selain itu penerimaan atas keterbatasan dan
keunggulan tiap orang yang dipimpinnya merupakan ciri utama Teori ini. Maka,
keluwesan harus menjadi titik berangkat dari kepemimpinan situasionil ini.
Namun, bila pemimpin tadi tidak mengubah pola kepemimpinan pada saat orang yang
dipimpinnya telah bertumbuh lebih matang, maka ia akan mengalami kesulitan-kesulitan.
Hal yang penting dari kepemimpinan tersebut, ialah bagaimana pemimpin menolong agar orang yang ia pimpin
mengalami transformasi dan tidak berhenti pada satu tingkat kedewasaan saja. Di
balik praktek kepemimpinan situasional terdapat suatu filosofi bahwa seorang
pemimpin haruslah mengubah orang lain, meneladani, serta telaten mengamati
kemajuan dari orang yang ia pimpin. Ia harus memiliki sensitivitas untuk
membaca siapa yang ia pimpin sehingga dapat menentukan gaya memimpin yang
paling cocok bagi mereka.
Untuk tiap kategori orang tertentu
diperlukan suatu pendekatan atau cara kepemimpinan tersendiri. Karenanya,
Blanchard menekankan perlunya kita meneliti variabel-variabel yang berpengaruh
di dalam kerangka membuat klasifikasi orang-orang yang dipimpin. Blanchard dan
Hersey mendapatkan bahwa ada dua variabel yang berperan yaitu, kematangan
pribadi dan tugas kepemimpinan.
OLDER POST | NEWER POST